Bagaimana Storytelling Bisa Buat Perusahaan Menempel di Benak Pelanggan

Dalam Shared Narrative #4, kita membahas tentang bagaimana keyakinanmu dapat membentuk narasi. Setelah menentukan narasi yang ingin kamu bangun, kamu tentu ingin cerita tersebut menempel dalam pikiran orang-orang. Tapi, tantangan yang kita semua hadapi adalah banjir informasi. Kita terus-menerus dibombardir oleh informasi, sejak kita bangun sampai tidur kembali di malam hari.

Berita utama di surat kabar, kisah-kisah dalam feed media sosial, topik-topik yang dibahas dalam banyak pertemuan, kamu harus bekerja keras membangun narasi yang bisa menempel di pikiran orang-orang. Jadi, bagaimana membuat narasi kamu populer di tengah semua informasi yang menuntut perhatian orang-orang?

Kami percaya jawabannya adalah melalui teknik storytelling (mendongeng); atau narasi dengan tujuan tertentu, seperti uraian dari Peter Guber.

Menurut Guber, dalam buku Carmine Gallo berjudul The Storyteller’s Secret, teknik storytelling terdiri dari tiga bagian kerangka: awal, tengah, dan akhir. Kerangka ini menjadikan narasi sebagai jembatan dari apa yang telah ada, menjadi apa yang diharapkan akan terjadi. Guber menjelaskan setiap bagian memiliki tujuan sendiri:

  1. Awal – ini adalah tantangan yang menarik untuk membuat pendengar ketagihan.
  2. Pertengahanperjuangan untuk memberi pendengar pengalaman emosional sehingga mereka merasa terlibat dan bersemangat.
  3. Akhirresolusi atau alternatif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi; ini untuk memastikan pendengar mengingat atau menindaklanjuti cerita.

Gelaran Apple MacWorld 2007 adalah salah satu contoh terbaik, di mana Steve Jobs menunjukkan kepada dunia kekuatan storytelling. Tidak hanya mencakup kepercayaan dan narasi, tapi Jobs juga mampu menginspirasi dan membujuk orang memahami sudut pandangnya. Peristiwa ini mengubah dunia selamanya.

Kutipan berikut adalah transkrip singkat yang telah diedit dari kisah produk yang diceritakan Steve Jobs saat meluncurkan iPhone pada 2007. Ia membingkai keyakinan dan narasi Apple (berpikir secara berbeda dan menantang status quo) menjadi narasi yang tak terlupakan.

Bagian awal (tantangan)

“Ponsel paling canggih disebut ‘smartphone‘, begitu kata mereka. Masalahnya adalah mereka tidak begitu pintar dan mereka tidak begitu mudah digunakan. Yang ingin kami lakukan adalah membuat produk inovatif yang jauh lebih pintar daripada perangkat seluler mana pun dan super mudah digunakan.

“Itulah iPhone. Jadi kita akan “menemukan kembali” telepon dan kita akan memulainya dengan teknologi antarmuka (user interface) yang revolusioner. Pertanyaannya adalah: mengapa kita membutuhkan user interface yang revolusioner?”

Bagian tengah (perjuangan)

“Berikut adalah empat smartphone—Motorola Q, Blackberry, Palm Treo, Nokia E62—yang biasa dijadikan contoh. Apa yang salah dengan user interface mereka? Masalah mereka terletak di bagian bawah yang terdiri dari empat puluh tombol.

“Bagian yang ada di sini [menunjuk ke kibor]. Mereka semua memiliki kibor ini—terlepas kamu butuh atau tidak—tidak bisa dihilangkan. Mereka semua memiliki tombol kontrol permanen berbentuk plastik; tombol dan kontrol ini tidak dapat berubah. Bagaimana kamu menyelesaikan problem ini?”

Bagian terakhir (resolusi)

“Yang akan kita lakukan adalah menyingkirkan semua tombol ini dan membuat layar raksasa. Bagaimana kita berkomunikasi dengan ini? Kita tidak ingin membawa-bawa mouse, bukan? Apakah kita akan menggunakan stylus?

“Tidak. Siapa juga yang mau menggunakan stylus? Kamu harus mengeluarkan mereka, menyimpannya, lalu hilang entah di mana. Tidak ada yang menginginkan stylus. Kita akan menggunakan suatu perangkat penunjuk terbaik di dunia, perangkat penunjuk yang kita miliki sejak lahir.

“Kami akan menggunakan jari kami, dan kami telah menemukan teknologi baru yang disebut multi-touch. Ini bekerja seperti sihir. Cara ini juga jauh lebih akurat daripada layar sentuh yang pernah ditampilkan. Sangat cerdas. Kami bahkan sudah mematenkannya”

Hanya dalam empat menit, Steve Jobs menjembatani dari apa yang telah ada menjadi apa yang bisa terjadi. Sisanya adalah sejarah.


Yang banyak orang katakan tentang storytelling

  1. How Telling Stories Makes Us Human – “Storytelling adalah cara yang kuat untuk membangun kerja sama dan mengajarkan norma-norma sosial. Cara ini juga memberikan manfaat kepada para pembuat kisah itu sendiri, meningkatkan peluang mereka untuk dipilih sebagai mitra sosial, menerima dukungan masyarakat dan bahkan memiliki keturunan yang sehat. “
  2. Storytelling is Necessary For Human Survival  – “Narasi merupakan cara kita untuk memahami tempat dalam beragam skema dengan menyusun pemahaman tentang berbagai peristiwa. Narasi mengikat kita dalam arus sejarah yang sedang berlangsung, sehingga memberi kita perasaan memiliki dan membantu bangun identitas.”
  3. The Art of Immersion: Why Do We Tell Stories – “Sama halnya dengan cara otak mendeteksi pola visual yang ada di alam sekitar—wajah, gambar, bunga—dan suara, otak juga mendeteksi pola dari informasi. Narasi adalah pola yang dapat dikenali, dan dalam pola itulah kita menemukan makna. Kita menggunakan cerita untuk memahami dunia sekitar dan untuk berbagi pemahaman itu dengan orang lain. Mereka adalah sinyal di tengah kebisingan.”

Ingin tahu lebih banyak?

Kunjungi situs web kami untuk mencari tahu mengapa kami menghadirkan Product Narrative.

Atau kamu dapat membaca edisi Shared Narrative sebelumnya di sini: #1, #2, #3, #4

Semoga hari mu menyenangkan!

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Bagaimana Storytelling Bisa Buat Perusahaan Menempel di Benak Pelanggan appeared first on Tech in Asia Indonesia.